1.Definisi Asesmen :
Menjelaskan bahwa asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk mengetahui kebutuhan belajar dan capaian perkembangan atau hasil belajar
murid. Bagian ini juga
mencantumkan dasar hukumnya, yaitu Permendikbud No. 21 Tahun 2022 tentang
Standar Penilaian Pendidikan.
2.Prinsip Asesmen : Menjabarkan
tiga prinsip utama:
·Berkeadilan :
Penilaian yang tidak bias oleh latar belakang, identitas, atau kebutuhan khusus
peserta didik.
·Edukatif :
Hasil penilaian digunakan sebagai umpan balik untuk meningkatkan proses
pembelajaran dan hasil belajar.
·Objektif :
Penilaian didasarkan pada informasi faktual atas pencapaian murid .
3.Jenis Asesmen Berdasarkan Tujuannya :
Membedakan dua jenis utama:
·Asesmen Formatif :
Bertujuan memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses belajar. Dapat
berupa asesmen di awal dan selama proses pembelajaran.
·Asesmen Sumatif :
Dilakukan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. Berfungsi
menilai hasil belajar sebagai dasar penentuan kenaikan kelas atau kelulusan .
4.Teknik Asesmen :
Menye butkan berbagai cara pendidik dapat mengumpulkan informasi:
Contoh teknik yang tercantum meliputi
Observasi, Projek, Tes Lisan, Kinerja, Tes Tertulis, Penugasan, Penilaian antar
Teman, Penilaian Diri, dan Portofolio.
Di dunia pendidikan yang terus
berubah, kecerdasan dan bakat saja tidak lagi cukup. Ada satu elemen rahasia
yang membedakan antara guru yang "stagnan" dengan guru yang terus
"bersinar", yaitu Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh.
Apa
itu Growth Mindset?
Konsep yang dipopulerkan oleh
P sikolog Carol Dweck ini menjelaskan bahwa kemampuan seseorang bukanlah harga
mati. Jika kita memiliki growth mindset, kita percaya bahwa kecerdasan
dapat dikembangkan melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan masukan dari
orang lain. Sebaliknya, fixed mindset percaya bahwa bakat adalah bawaan
lahir yang tidak bisa diubah.
Mengapa
Guru Harus Memilikinya?
Menghadapi Perubahan Kurikulum: Dengan pola pikir bertumbuh, perubahan kurikulum bukan
dianggap sebagai beban, melainkan kesempatan untuk mempelajari metode
baru.
Menginspirasi Siswa:
Guru yang menunjukkan semangat belajar akan menjadi teladan nyata bagi
siswa. Jika gurunya saja berani gagal dan mencoba lagi, siswa pun tidak
akan takut untuk belajar.
Kesehatan Mental yang Lebih Baik: Guru dengan growth mindset cenderung tidak
mudah stres saat menghadapi tantangan di kelas karena mereka fokus pada proses,
bukan sekadar hasil akhir.
Langkah
Praktis Menumbuhkan Growth Mindset di Sekolah
Gunakan Kekuatan Kata "BELUM": Jangan katakan "Saya tidak bisa pakai aplikasi
ini," tapi katakan "Saya belum bisa, tapi saya sedang
mempelajarinya."
Jadikan Kesalahan sebagai Teman: Saat sebuah metode mengajar gagal, jangan berkecil
hati. Jadikan itu sebagai data untuk memperbaiki strategi mengajar besok
pagi.
Rayakan Proses, Bukan Hanya Nilai: Berikan apresiasi pada usaha keras siswa, bukan hanya
pada nilai 100 yang mereka dapatkan. Ini akan membangun mentalitas pejuang
pada anak didik.
Cari Umpan Balik:
Jangan takut diobservasi oleh rekan sejawat. Masukan dari teman adalah
"pupuk" terbaik untuk pertumbuhan profesional kita.
Kesimpulan
Menjadi guru bukan berarti berhenti
belajar. Justru, guru adalah pembelajar nomor satu di sekolah. Dengan
menanamkan growth mindset, kita tidak hanya meningkatkan kualitas
pengajaran, tapi juga membuka pintu keberhasilan yang lebih luas bagi masa
depan anak didik kita.
"Pendidikan bukan tentang
mengisi wadah, tapi tentang menyalakan api." – William Butler Yeats.