Like on Facebook

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

WILUJENG SUMPING ! Tong Hilap Ngopi Heula

Jumat, 15 Mei 2026

Konsep Asesmen Pembelajaran

1.       Definisi Asesmen : Menjelaskan bahwa asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar dan capaian perkembangan atau hasil belajar murid. Bagian ini juga mencantumkan dasar hukumnya, yaitu Permendikbud No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

2.      Prinsip Asesmen : Menjabarkan tiga prinsip utama:

·         Berkeadilan : Penilaian yang tidak bias oleh latar belakang, identitas, atau kebutuhan khusus peserta didik.

·         Edukatif : Hasil penilaian digunakan sebagai umpan balik untuk meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar.

·         Objektif : Penilaian didasarkan pada informasi faktual atas pencapaian murid .

3.      Jenis Asesmen Berdasarkan Tujuannya : Membedakan dua jenis utama:

·         Asesmen Formatif : Bertujuan memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses belajar. Dapat berupa asesmen di awal dan selama proses pembelajaran.

·         Asesmen Sumatif : Dilakukan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. Berfungsi menilai hasil belajar sebagai dasar penentuan kenaikan kelas atau kelulusan .

4.      Teknik Asesmen : Menye
butkan berbagai cara pendidik dapat mengumpulkan informasi:

Contoh teknik yang tercantum meliputi Observasi, Projek, Tes Lisan, Kinerja, Tes Tertulis, Penugasan, Penilaian antar Teman, Penilaian Diri, dan Portofolio.

Growth Mindset: Kunci Menjadi Guru Pembelajar di Era Digital

 










Di dunia pendidikan yang terus berubah, kecerdasan dan bakat saja tidak lagi cukup. Ada satu elemen rahasia yang membedakan antara guru yang "stagnan" dengan guru yang terus "bersinar", yaitu Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh.

Apa itu Growth Mindset?

Konsep yang dipopulerkan oleh P
sikolog Carol Dweck ini menjelaskan bahwa kemampuan seseorang bukanlah harga mati. Jika kita memiliki growth mindset, kita percaya bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan masukan dari orang lain. Sebaliknya, fixed mindset percaya bahwa bakat adalah bawaan lahir yang tidak bisa diubah.


Mengapa Guru Harus Memilikinya?

  1. Menghadapi Perubahan Kurikulum: Dengan pola pikir bertumbuh, perubahan kurikulum bukan dianggap sebagai beban, melainkan kesempatan untuk mempelajari metode baru.
  2. Menginspirasi Siswa: Guru yang menunjukkan semangat belajar akan menjadi teladan nyata bagi siswa. Jika gurunya saja berani gagal dan mencoba lagi, siswa pun tidak akan takut untuk belajar.
  3. Kesehatan Mental yang Lebih Baik: Guru dengan growth mindset cenderung tidak mudah stres saat menghadapi tantangan di kelas karena mereka fokus pada proses, bukan sekadar hasil akhir.

Langkah Praktis Menumbuhkan Growth Mindset di Sekolah

  • Gunakan Kekuatan Kata "BELUM": Jangan katakan "Saya tidak bisa pakai aplikasi ini," tapi katakan "Saya belum bisa, tapi saya sedang mempelajarinya."
  • Jadikan Kesalahan sebagai Teman: Saat sebuah metode mengajar gagal, jangan berkecil hati. Jadikan itu sebagai data untuk memperbaiki strategi mengajar besok pagi.
  • Rayakan Proses, Bukan Hanya Nilai: Berikan apresiasi pada usaha keras siswa, bukan hanya pada nilai 100 yang mereka dapatkan. Ini akan membangun mentalitas pejuang pada anak didik.
  • Cari Umpan Balik: Jangan takut diobservasi oleh rekan sejawat. Masukan dari teman adalah "pupuk" terbaik untuk pertumbuhan profesional kita.

Kesimpulan

Menjadi guru bukan berarti berhenti belajar. Justru, guru adalah pembelajar nomor satu di sekolah. Dengan menanamkan growth mindset, kita tidak hanya meningkatkan kualitas pengajaran, tapi juga membuka pintu keberhasilan yang lebih luas bagi masa depan anak didik kita.

"Pendidikan bukan tentang mengisi wadah, tapi tentang menyalakan api." – William Butler Yeats.


Penulis : Ahmad Julia